SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI BLOG ANAK ASLIPUTRALUBERTESTING!!!!!!!!!!!!

Jumat, 07 Oktober 2011

PLTKA DESA LUBUK BERINGIN

model-pltka.jpg
Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.
Masyarakat setempat menyebutnya dengan PLTKA (Pembangkit Listrik Tenaga Kincir Air). Dari dua PLTKA yang ada di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Muaro Bungo itu, mampu menerangi 45 rumah dari lebih kurang 69 rumah yang terdapat di desa yang masuk IDT kategori miskin itu, dengan daya 5000 watt. ”Ya kami sangat tertolong dengan adanya PLTKA ini, kami menikmati listrik yang selama ini sangat jauh dari harapan kami,”kata Najmi salah satu warga desa Lubuk Beringin.
Bagi ayah 5 anak ini, listrik selain memberikan penerangan keluarga, juga mengirit pengeluarannya. Sebelum PLTKA aktif pada September 2006 masyarakat menggunakan lampu togo—lampu minyak yang mirib bom molotov–. Untuk menyalakan togo, masyarakat menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah ke desa yang hanya bisa kendaraan roda dua ini, harganya sangat mahal satu botol minyak tanah (botol yang digunakan bekas botol sirup ukuran 630 ml) masyarakat harus merogoh kocek Rp 5 ribu. Sebotol itu hanya tahan digunakan untuk dua malam saja. Jadi bisa diasumsikan dalam satu bulan pengeluaran masing-masing rumah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan dengan menggunakan PLTKA, masing-masing rumah yang dialiri listrik ini hanya di pungut Rp 10.000 per bulan.
”Kami sangat tertolong, karena harganya sangat murah dan bersih lagi,”sebut Najmi. Bersih maksudnya di sini, karena togo akan menghasilkan jelaga dan lama kelamaan akan membuat warna rumah dan kain yang tergantung menguning, selain itu juga di pagi hari lubang hidung akan berwarna hitam.
”Anak-anak juga senang karena mereka bisa belajar di malam hari,”kata pria yang memasang tiga bohlam hemat energi di rumahnya. Hanya saja keinginan Najmi dan keluarga untuk bisa menonton televisi masih harus ditahannya.
”Ya saya sudah beli tipi-nya (maksudnya televisi) tapi kadang listrinya tidak k kuat, kadang bisa kadang tidak,”kata Najmi. Ya moga aja nanti ketika kapasitas PLTKA-nya meningkat dan menghasilkan daya yang lebih banyak masyarakat Lubuk Beringin dapat menikmati aliran listrik dan juga bisa mengetahui kejadian di luar mereka secara lebih cepat. Selain itu hiburan dari televisi mungkin juga bisa mereka nikmati.
Satu hal yang mengundang kesalutan kita untuk masyarakat Lubuk Beringin, meski masih terkategori miskin, masyarakat tetap hidup bersahaja dan melindungi hutan mereka. Bahkan pola perkebunan yang mereka terapkan pun merupakan perkebunan ramah lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kebun karet. Setiap keluarga memiliki kebun karet luasnya bervariasi. Najmi misalnya memiliki setengah hektar kebun karet. Tumbuhan yang hidup disini bukan hanya karet tapi juga hidup tumbuhan lain yang bernilai ekonomis seperti buah-buahan. ”Hasil sadapan cukup lumayan lah, sebulan bisa mencapai Rp 500.000 ribu, dengan harga karet saat ini Rp 7.000/kg.
Kebun karet campur yang dikemabangkan masyarakat Lubuk Beringin telah menjadi perekat antara masyarakat dan hutan. Kebun karet campur mempunyai fungsi mirip hutan alam yaitu sebagai daerah tangkapan air yang akan menjadi sumber air untuk sungai Batang Buat dan kemudian air sungai ini dimanfaatkan untuk menggerakkan kincir yang akan memutar turbin pembangkit litrik yang akan menerangi rumah masyarakat. Waow kreatifkan mereka. Jauh dari fasilitas umum, bukan berarti mereka tidak bisa menikmati terangnya listrik. Dengan kearifan menjaga hutan, keuntungan tidak hanya buat masyarakat desa LUbuk Beringin, tapi juga masyarakat lainnya di Jambi yang berada di wilayah hilir. Salut buat mereka yang gigih menjaga hutannya.

GUBERNUR JAMBI MENANDATANGINI RKHD HUTNA DESA LUBUK BERINGIN



Harapan masyarakat Lubuk Beringin Kecamatan Bathin III Ulu Kabupaten Bungo untuk segera  mengelola kawasan hutan desa, nampaknya segera terwujud. Ini ditandai dengan sudah ditandatanganinya Rencana Kerja Hutan Desa (RKHD) Lubuk Beringin oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, pada 11 Maret lalu.  Sebelumnya Rencana kerja ini disusun oleh masyarakat Lubuk Beringin melalui kelompok pengelola hutan desa yang dinamai Ndendang Hulu Sako Batang Buat Dusun Lubuk Beringin. Dalam RKHD ini,  ditentukan kelola kawasan, kelembagaan, usaha dan sumber daya manusia dalam mengelola kawasan hutan seluas 2.356 ha tersebut.
Dalam surat keputusan gubernur bernomor 146/Kep.Gub/Dishut/2011 disebutkan masyarakat Lubuk Beringin akan mengelola dan memanfaatkan hutan desa yang telah diresmikan Menteri Kehutanan Malam Sabat kaban pada tahun 2009 lalu, dalam jangka waktu 35 tahun ke depan.  “Dengan adanya SK RKHD ini, harapan masyarakat untuk mengelola kawasan hutan, bisa segera diwujudkan. Masyarakat sudah menjalani semua proses untuk mendapatkan hak kelola hutan desa, mulai dari pengajuan kawasan kelola  ke menteri kehutanan hingga sekarang tentang rencana kerja yang telah disahkan gubernur,”ujar Rakhmat Hidayat Direktur KKI Warsi yang selama ini aktif mendampingi masyarakat dalam memperjuangkan hak kelolanya.
Disebutkan dalam rencana kerjanya, masyarakat telah merencanakan untuk pengayaan tanaman hutan, melakukan pengawasan, hingga mengidentifikasi pemanfaatan hutan desa. “Khusus untuk Lubuk Beringin, karena kawasan ini asalnya dari hutan lindung, maka yang boleh dimanfaatkan masyarakat adalah hasil hutan bukan kayu seperti rotan, manau dan beragam jenis buah,”sebutnya.
Namun sebelum memanfaatkan dan mengelola Hutan Desa ini, masyarakat terlebih dahulu, akan menyusun rencana kerja tahunan. “Dalam mendapatkan hak kelola hutan desa ini, masyarakat Lubuk Beringin mengikuti setiap tahapan, sehingga harapannya nanti, hasil yang didapatkan akan sangat menunjang kehidupan masyarakat Lubuk Beringin, terutama perlindungan hutan sebagai sumber mata air bagi masyarakat setempat, juga menambah pendapatan masyarakat melalui hasil hutan bukan kayu,”kata Rakhmat.
Lebih jauh Rakhmat berharap, pilot project pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan skema Hutan Desa ini, juga segera terealisasi di 23 seluas 48.326,69 ha lainnya yang didampingi Warsi untuk mendapatkan hak kelola hutan desa.
Di tempat terpisah, kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Zulfadli Mansoer menyebutkan dengan telah ditandatanganinya RKHD ini, merupakan bukti nyata dukungan pemerintah daerah untuk pengelolaan kawasan hutan oleh masyarakat.  Selain itu, menurut Roy,  sapaan akrab Zulfadli, keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong hutan desa ini,  juga sebagai salah satu bentuk skema yang diupayakan untuk resolusi  konflik pengelolaan sumber daya alam, khususnya kawasan hutan. “Dengan skema pelibatan langsung masyarakat dalam mengelola hutan, seperti hutan desa ini, merupakan salah satu langkah yang kami dukung, karena ini juga merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi konflik pengelolaan sumber daya alam, khususnya hutan,”sebutnya.
Ditambahkan oleh Grendel Sitepu, kepala BP DAS Batanghari Jambi, selaku UPT Kementrian kehutanan di Provinsi Jambi, mendukung kegiatan ini, salah satu bentuknya pengayaan hutan desa. “Kami juga akan memberikan bimbingan teknis untuk mendukung upaya masyarakat dalam mengelola hutan desanya,”sebut Grendel.
Untuk 23 desa lainnya yang kini juga tengah menunggu penetapan izin hutan  desa oleh Kementrian Kehutanan, Grendel juga mendorong supaya dilakukan percepatan pengeluaran izin-izin tersebut, mengingat sudah panjangnya waktu yang dilalui masyarakat untuk mendapatkan hak kelolanya. “Kami juga selalu berkomunikasi dengan tim di Jakarta, supaya segera menindaklanjuti, usulan masyarakat untuk mengelola hutan desa,”sebutnya.









Wilayah
Luas (ha)
Luas setelah verifikasi
Usulan desa ke bupati
Bupati ke Menteri
Verifikasi kementrian
Keterangan
Bungo (3 Desa)
4.648, 69





Senamat Ulu
Laman Panjang
Buat
2.217
1.254,43 
1.177,26
 Tetap
22-12-2009
23-12-2009,
23-12-2009
19-01-2010
19-01-2010
19-01-2010
 12-13/8/ 2010
Menunggu SK penetapan areal kerja
Merangin (17 Desa di empat kecamatan)
49.500

40.217




Birun
Lubuk Beringin
Lubuk Birah
Durian Rambun
Kotorami
Tuo
Tanjung Dalam
Tanjung Benuang
Gedang
Kotobaru
Tanjung Alam
Tanjung Mudo
Jangkat
Beringin Tinggi
Pematang Pauh
Talang Tembago
Muara madras
 3.267
2.713
4.245
4.445
1.872
2.185
2.189
1.250
1.764
763
853
1.014
4.477
2.914
2.964
2.769
9.830
 2.788
2.712
4.638
4.484
233
1.237
957
1.254
1.766
762
829
1.058
4.467
2.038
2.957
2.707
5.330
  

Diajukan masing-masing desa pada awal tahun 2010


17-5-2010

4-10-2010

Menunggu keluar SK penetapan areal kerja

Batang Hari (3 Desa)
3.461





Olak Besar
Jelutih
Hajran
707
2.668
86
Tetap
5-1-2009
10-2-2009
22-5-2009
Menunggu penetapan  SK Hutan Desa
Untuk diketahui  masyarakat Lubuk Beringin, pada 2008 lalu mengajukan usulan pengelolaan hutan desa di Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur  yang masuk wilayah administratif Lubuk Beringin. Perjuangan masyarakat ini ditanggapi menteri kehutanan dengan keluarnya SK nomor 109/Menhut-II/2009 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa Pada Kawasan Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur seluas 2.356 ha.  Untuk pengelolaan kawasan, Gubernur Jambi telah mengeluarkan Keputusan No 124 tahun 2009. Sebagai tahapan pengelolaan hutan desa, adalah menyusun RKHD, yang juga telah disahkan Gubernur Jambi Jumat lalu.
Berikut desa-desa yang juga tengah menunggu penetapan areal kerja Hutan Desa oleh Menteri Kehutanan: 

Senin, 03 Oktober 2011

WISATA ALAM.

Tak hanya kawasan hutan lebat diareal hutan desa yang dimiliki dusun Lubuk Beringin Kecamatan Bhatin III Ulu, tetapi areal 2.356 hektar di hulu batang buat tersebut, tersimpan obyek wisata yang tak ternilai. Bahkan, obyek wisata yang dinilai masih belum terjamah oleh tangan manusia tesebut, 
. Salah satu kegiatan Dusun Lubuk Beringin adalah digelarnya kemah bersama unsur pemerintah Dusun Lubuk Beringin, masyarakat , Warsi, travel tour, pihak kecamatan, Kantor lingkungan hidup dan dinas kehutanan Bungo,baru-baru ini dikawasan hutan desa.
disini pengelola hutan desa, menunjukkan obyek yang dinilai menjadi daya tarik bagi wisatawan. diantaranya perilaku hidup warga setempat terhadap alam, lalu sumber air yang masih sangat alami, berbagai jenis kayu rimba yang masih alami.

yang terpenting adalah berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di kawasan hutan desa.panorama alami berupa air terjun dan sejumlah objek lainnya." Kita menggelar acara ini, untuk promosi keluar, kita memiliki hutan desa yang masih terjaga keasliannya, kekayaan dihutan desa ini adalah obyek wisata alami yang diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan nantinya", ucap Mukhlis ketua pengelola Hutan desa, Lubuk Beringin.
sungguh sangat menakjubkan pemandangan di sekitat pendesaan apalai di kawasan hutan desa, dan lagi  ada burung berkicau dan binatang lain membangun tidur kita di kala pagi hari benarenar sungguh menakjubkan.